
By NV | 07 Maret 2025
Software architecture adalah cara sebuah sistem dirancang dan diatur agar dapat digunakan dengan baik. Dua tipe arsitektur yang paling umum digunakan dalam pengembangan perangkat lunak adalah arsitektur monolitik dan microservice.
Arsitektur aplikasi web bergantung pada fokus pembuatan aplikasi web dan didefinisikan sebagai model interaksi antara komponen aplikasi web. Jenis arsitektur aplikasi web sangat tergantung pada bagaimana logika aplikasi dialokasikan antara sisi klien dan server.
Arsitektur software berkembang dengan sangat cepat. Ini mulai dari aplikasi berukuran besar atau monolitik yang dioperasikan oleh satu aplikasi sampai menjadi banyak aplikasi berukuran kecil yang berkomunikasi satu sama lain dalam sebuah kesatuan sistem yang besar, yang sedang populer saat ini disebut sebagai microservice arsitektur.
Dalam pengembangan perangkat lunak, dua pendekatan utama yang sering dibandingkan adalah arsitektur monolitik dan arsitektur microservices. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung pada kebutuhan bisnis dan teknis suatu perusahaan. Berikut adalah perbandingan antara keduanya serta tren penerapannya di industri teknologi.
Apa Itu Arsitektur Monolitik?
Arsitektur monolitik adalah pendekatan tradisional dalam pengembangan aplikasi di mana seluruh komponen aplikasi—mulai dari antarmuka pengguna, logika bisnis, hingga database—dibangun dalam satu kesatuan.
Keunggulan Arsitektur Monolitik:
Kesederhanaan: Lebih mudah dikembangkan, diuji, dan diterapkan karena hanya ada satu aplikasi yang harus dikelola.
Performa Optimal: Karena semua komponen berada dalam satu sistem, komunikasi antarbagian aplikasi lebih cepat dibandingkan microservices yang menggunakan API.
Lebih Mudah Debugging: Kesalahan dapat ditemukan dengan lebih cepat karena tidak ada banyak layanan terpisah.
Kekurangan Arsitektur Monolitik:
Sulit Dikelola Seiring Pertumbuhan: Ketika aplikasi semakin besar dan kompleks, proses pengembangan dan deployment menjadi lebih sulit.
Kurang Fleksibel: Perubahan pada satu bagian aplikasi bisa mempengaruhi keseluruhan sistem.
Skalabilitas Terbatas: Jika satu bagian aplikasi membutuhkan peningkatan kapasitas, seluruh aplikasi harus diskalakan, yang bisa menghabiskan lebih banyak sumber daya.
Apa Itu Arsitektur Microservices?
Arsitektur microservices membagi aplikasi menjadi layanan-layanan kecil yang dapat berjalan secara independen. Setiap layanan memiliki tanggung jawab spesifik dan berkomunikasi dengan layanan lain menggunakan API.
Keunggulan Arsitektur Microservices:
Skalabilitas yang Lebih Baik: Setiap layanan dapat diskalakan secara independen, sehingga lebih hemat sumber daya dibandingkan monolitik.
Penerapan Perubahan Lebih Cepat: Karena layanan bersifat modular, tim pengembang dapat mengembangkan dan menerapkan fitur baru tanpa mengganggu keseluruhan aplikasi.
Reliabilitas Tinggi: Jika satu layanan mengalami kegagalan, bagian lain dari sistem tetap bisa berfungsi dengan baik.
Kekurangan Arsitektur Microservices:
Kompleksitas Tinggi: Mengelola banyak layanan memerlukan sistem orkestrasi dan pemantauan yang baik.
Kesulitan dalam Debugging: Karena banyak layanan saling berinteraksi, melacak kesalahan bisa lebih sulit dibandingkan dengan monolitik.
Biaya Infrastruktur Lebih Mahal: Setiap layanan memerlukan lingkungan server tersendiri yang bisa meningkatkan biaya operasional.
Mana yang Lebih Baik?
Pemilihan antara monolitik dan microservices tergantung pada skala dan kebutuhan aplikasi:
Startup atau aplikasi sederhana → Monolitik lebih cocok, karena lebih mudah dikembangkan dan lebih hemat biaya.
Perusahaan skala besar dengan kebutuhan fleksibilitas dan skalabilitas tinggi → Microservices lebih ideal, karena memungkinkan pengelolaan layanan yang lebih modular.
References: